Sampai beberapa bulan disini, hanya ada satu tempat yang saya senangi. Senen. Karena disini saya bisa membeli buku dengan harga yang sangat “dibanting”. continue…
Senen (Buku Murah)
Masih Tentang Demo
Demonstrasi hari ini telah memasuki hari … (maaf saya tidak ingat).
Setelah bekerja hari ini niatnya saya ingin turut serta dalam demonstrasi. Sayang setelah sampai di depan gedung DPR/MPR nampaknya yang berorasi hanya tinggal satu ORMAS dengan jumlah demonstran yang kurang lebih 20 orang. Jumlah yang sangat sedikit melihat demonstrasi yang terjadi kemarin…
Bukan itu yang menarik perhatianku tadi. Justru yang menarik adalah orang-orang yang ada disekitar tempat itu, yang menjadi penonton, menganggap demonstrasi adalah sebuah hiburan. Sebuah negara yang seolah-olah sangat haus akan hiburan. Semoga kenaikan BBM ini tidak dianggap oleh mereka seperti alur dalam sebuah sinetron yang berujung tokoh utama akan menang. Dan semoga orang-orang yang berdemonstrasi itu tidak menanggapnya hanya sebagai sebuah hiburan semata.
Ada yang bertanya mengapa hari ini masih ada demonstrasi toh sidang katanya telah mencapai hasil final. Sepertinya ia orang yang menganggap apa yang terjadi itu harus diterima dengan lapang dada. Perjuangan belum usai karena hasil dari sidang anggota dewan kita yang katanya terhormat itu bukan membatalkan kenaikan BBM tetapi MENUNDAnya, kenaikannya akan mengikuti harga minyak dunia jika sampai pada level tertentu.
Ternyata ormas dengan jumlah yang kecil itu, yang berorasi tadi sepertinya visioner, dia telah mampu membaca apa yang sebenarnya pemerintah inginkan. Saya cuma sempat membaca dua hal dari yang diserukannya Batalkan kenaikan BBM. Nasionalisai Perusahaan Tambang Asing(maaf yang ini tidak begitu saya ingat)
Pelajaran hari ini juga buat saya, masih harus belajar mencari angle untuk fotografi seperti ini.
Demonstrasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Demonstrasi adalah pernyataan protes yg dikemukakan secara massal. Akhir-akhir ini kata ini seringkali kita dengar. Apalagi di tengah wacana pemerintah untuk menaikkan BBM. Demonstrasi tidak hanya menjadi wacana tapi menjadi aksi. Banyak yang mendukung tetapi lebih banyak masyarakat yang antipati.
Masyarakat sepertinya antipati dengan sikap-sikap demonstran-demonstran ini yang melihat dari TV seperrtinya brutal dan hampir selalu chaos. Namun, saya tidak yakin masyarakat antipati dengan apa yang disuarakan oleh mereka. Toh… para demonstran-demonstran itu turun ke jalan karena buah proses berpikir yang panjang. Mereka turun ke jalan karena perasaan jemu melihat kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak jua berpihak pada rakyat kecil.
Kata sebagian mereka (masyarakat), demonstrasi yang mereka lakukan tidak cerdas. Membakar ban, menutup jalan, dan saling serang dengan polisi.
Demonstrasi adalah jalan terakhir untuk menyuarakan aspirasi, setelah jalur lain yang ditempuh tidak berhasil. Jadi tidak bearti demonstran langsung turun ke jalan. Meskipun ada sebagian dari mereka yang memang tidak menempuh jalur yang lain. Melihat kemampuan demonstran, wajar sebenarnya karena demonstran tidak mempunyai kemampuan untuk turut mengambil atau mengubah kebijakan yang dapat mereka lakukan adalah mengkritisi dan memberikan solusi cerdas. Pemerintah juga tidak akan melihat demonstrasi yang dilakukan secara damai akhirnya terjadilah demonstasi yang tidak cerdas itu.
Tetap Melawan Kawan.
Jakarta, 28 03 12
BBM
Seringkali apa yang dilakukan pemerintah tidak nampak sebagai perwujudan aspirasi rakyat. Kebijakan-kebijakan yang diambil sama sekali tidak cerdas.Inilah hasil dari pembelajaran demokrasi kita. Demokrasi yang seingat saya dulu melahirkan presiden dari PEMILU yang katanya paling independent dari yang bangsa ini pernah lakukan. Miris tentunya.
Saya bukan ahli ekonomi atau mahasiswa ekonomi, hanyalah orang awam tetapi dari itu mari kita kritisi kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM dengan mengurangi subsidi.
Peningkatan harga BBM tentu akan berdampak langsung pada pedagang kecil dan menengah yang mau tidak mau harus menekan biaya produksi atau mengurangi kualitas produksi disamping itu harus menaikkan harga jual ditengah kepastian menurunnya daya beli masyarakat. Ironi.
Meningkatnya harga BBM juga tentu akan menaikkan biaya transportasi umum. Ini jelas akan diikuti kenaikan harga bahan-bahan pokok (sembako). Pertanyaannya apakah gaji buruh rendahan dan menengah meningkat. Sepertinya tidak. Kehidupan seperti ini bagai makan buah simalakama. Pahit.
Secara analisa ekonomi saya tidak tahu penyebab pasti kenaikan harga BBM yang saya tahu adalah kenaikannya karena mengikuti harga minyak dunia.
Pertanyaan besarnya adalah untuk siapa BBM dinaikkan toh sama sekali tidak berdampak baik ke masyarakat kecil dan menengah. Yang akan menikmati tentunya adalah kalangan atas dengan tunggangan-tunggangannya. Kenapa tidak penggunaan BBM itu dibatasi untuk kalangan atas biarkan mereka membeli dengan harga yang ada dipasaran. Toh mereka mampu. Atau jika tidak pemerintah harus memperbaiki tata kelola transportasi umum dan melarang penggunaan kendaraan pribadi. Ini juga tentu akan mengurangi polusi.
Mungkin juga kembalikan Freeport ke tangan anak bangsa agar emasnya yang banyak itu digunakan untuk subsidi BBM.
Inilah hasil pemikiran-pemikiran orang-orang di gedung mewah sana. Mana mungkin memikirkan rakyat kecil, miskin, tak bersandal di balik tembok gedung-gedung mewah.
Hari-hari kedepan tentu akan sulit buat kita.
Hati nuraniku teriris perih bagaimana kita akan hidup nanti kawan. Menatap mentari 1 April pun rasanya ogah. Oh iya… itu nanti April Mop Kawan. Kejutan dari pemerintah tentunya yang akan membuat jantung dan mulut ini kelu. Semoga jalan panjang perbaikan bangsa ini masih terbuka lebar. Di tangan kita kawan. Tangan anak-anak muda yang haus perubahan. Bukan anak muda yang terhipnotis serangan budaya asing. Tetap LAWAN KAWAN.
jakarta, 27 Maret 2012 22:40
Rumah Pekat
Sudah masuk bulan keempat di tempat ini… Tarikan napasku semakin panjang terdengar. Saya berusaha untuk tidak mengeluh. Yang saya butuhkan adalah menghirup energi positif sebanyak-banyaknya namun yang tersedia di sekitar sini adalah energi negatif.
Maaf sepertinya kalimat per kalimat sudah tidak terhubung, paragraf demi paragraf sudah tidak padu. Saya semakin bodoh disini.
Tempat ini pula yang mengajarkanku bagaimana individualisme itu. Sangat tidak asyik kawan. Orang-orang seperti itu seolah tidak merasai dan memaknai hidup dengan seutuhnya. Hidup memang hanya sekali, bukan untuk dinikmati seorang diri atau dengan komunitas sempit tetapi untuk membagi kebahagiaan sekecil apapun dengan orang lain. Aneh dan muak rasanya berada di tempat seperti ini.
Di luar dari rumah pekat ini akan kau temui kehidupan muda-mudi yang tak punya undang-undang. Hitam dan putih tidak ada bedanya buat mereka. Seperti binatangkah itu. Mungkin iya, karena binatang juga tidak bisa membedakan hitam dan putih. Kelebihan mereka adalah mereka dibalut dengan pakaian beraneka rupa, mahal, dan engkau akan rela menjual iman karena melihat rupa penampilnya.
Di luar rumah pekat ini juga akan kau temui bangunan megah menantang langit bersebelahan dengan gubuk derita beralaskan tanah. Kau seolah sangat mudah membedakan surga dan neraka seandainya itu dinilai dari materi.
Rumah pekat tempatku sementara menetap ini ada tanah yang banyak orang menggantungkan hidupnya dan menggantungkan mimpinya. Tanah itu bernama Jakarta. Sebuah tanah yang telah lama mengenal peradaban tetapi semakin tidak beradab.
Kita Sekota
Wajah lamamu itu kembali menggangguku
Dulu aku tidak sempat mengatakan rasaku padamu
Butuh waktu 4 tahun aku melupakanmu
Sayang wajahmu kembali mengganguku
Engkau tidak terikat dengan seorang pun sekarang
Akh…
Namun, aku enggan bertemu denganmu.
Kita satu kota sekarang
Namun, aku berat melangkahkan kaki mengejarmu.
Bukan karena rasaku memudar
Tapi aku takut melihatmu pergi lagi
Bayangmu yang sekarang juga tak seperti dulu lagi
Telah ada warna lain
Atau aku berpura-pura memudarkan bayangmu.
Hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Atau hanya Tuhan yang tahu
Aku juga tak mengerti.
Butta Kalasukangku (Kampung Halamanku)
bella tojingmo lampaku ka
nasimbangi dolanga
aule ta’lengu tomma
ri bulu’na butta jawa
manna mamonjo na kamma
tuliji ku pariati
aule pa’rasangangku
ri butta kalasukangku
tau lolonna na tau rungkana
mala’biri ri pangngadakkang
tau lolonna na tau rungkana
mala’biri ri pangngadakkang
alusu’ ri kana-kana alusu’ ri panggaukang
ma’baji ampe adatta ri mangkasara
lagu yang mengobati sebagian kerinduan dengan kampung halaman. Makna lagunya juga menambah kebanggaan akan Makassar. Berharap Makassar tidak hanya maju dalam industri dan teknologi tetapi tetap menjadi kota beradab dan beragama. Ewako.
Artinya kurang lebih seperti ini :
Bella tojeng milampakku
= Jauh sudah saya pergi
kana simbang mi dolangan
= Sudah diantarai oleh lautan luas
aule talengu tomma
= Dan (saya) sudah terhalang
ri buluna butta jawa
= Gunung di tanah jawa
manna mamonjo na kamma
= Walaupun begitu
tuli ji kupariati
= Tetap saya ingat (kampungku)
aule parasanganku
= Oh kampungku
ri butta lakalasukangku
= Tanah kelahiranku
tau lolona natau rungkana
= Anak gadis dan anak mudanya
malabbiri ri pangadakkang 2X
= Selalu menjaga adat istiadat
alusu rikana-kana
= Lembut dalam bertutus kata
alausu ri pangagaukang
= Lemah lembut dalam berbuat
mabaji ampe adatta ri mangkasara
= baik kelukuannya, adat kita sebagai orang Makassar
Meet the Leaders
Pemuda. Ehm hal yang selalu menarik untuk dibahas dan ini menjadi tema utama dalam meet the leaders parlemen muda. Bang Anies mengatakan perjuangan Indonesia menjadi Indonesia selalu digawangi oleh pemuda. mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966 dan terakhir 1998 melihat ini tetu kita bisa melihat ada fase pergerakan dan akan tiba saatnya kita. (kurang lebih seperti itu) Menurutnya Indonesia krisis orang yang memiliki integritas menurut saya ini benar dan kita dapat lihat minus integritas sudah sampai pada lapisan terbawah, dulu kita punya Bung Karno, bung Hatta, H. Agus Salim. Suatau ketika Bung Hatta berpidato di sumatera bahwa yang kita butuhkan ke depan adalah sarjana-sarjana teknik listrik, dan semua pemuda berbondong-bondong sekolah teknk listrik kenapa karena beliau memiliki integritas, tidak mungki orang akan berpikir nanti dia yang akan mengejar tender atau membuat perusahaan kedua katanya kita kekurangan pemimpin-pemimpin yang visioner, yang melihat jauh kedepan, contohnya betapa visionernya mereka ketika menetapkan bahwa bahasa yang kita gunakan adalah bahasa Indonesia, bahasa Indonsia yang digunakan untuk menyatukan perbedaan sekeras apapun perseteruan kita dan darimanapun kita kita akan duduk dalam meja perundingan dengan bahasa yang sama. Ini tidak sama dengan eropa yang menggunakan 33 bahasa yang berbeda. Dan sungguh luar biasa beraninya mereka,jong2, ketika harus pulang kekampung halaman dan mengatakan bahasa ibu sekarang tidak terpakai, yang kita gunakan sekarang adalah bahasa Indonesia. Joko widodo dengan pendekatan kopmprhensif yang teratur, bijaksana, visioner, dan dekat dengan rakyat telah mengubah wajah kota Solo. Amazing. Perjalanannya mengubah kota Solo bukannya tanpa hambatan, hambatan pertama justru datang dari para pendemo dan aparaturnya sendiri yang bermental bobrok tetapi luar biasanya dia melakukan pendekatan yang tepat. Dia telah mengubah pemukiman kumuh dengan pendekatan tapi tidak serta merta memberi tapi tetap menjaga semangat gotong royong dan tradisi yang terjaga. begitu juga denga para PKL yang diajak berdiskusi bahkan lebih dari 50 kali. Sesuatu yang patut dicontoh, katanya dia lebih suka banyak bkerja daripada banyak bicara. Si christoph yang orang bule Scotland mengatakan ia cinta Indonesia karena dengan Indonesia ia melihat masa depan peradaban dunia dimana barat dan europe sekarang digawangi oleh orang tua berbeda denga Indonesia yang mulia kelihatan orang-orang mudanya. Quote: saya suka dengan pemuda karena dengan pemuda saya bisa melihat masa depan. Dik Doank: seandainya dia menjadi istriku dan menyayangiku dan anak-anakku maka itu adalah hal yang wajar tapi jika dia mencintai anak-anak orang lain maka ia tidak hanya akan kuberikan cinta ia akan kuberikan tempat yang lebih daripada itu. Sekolah itu tidak penting tapi kamu harus sekolah untuk tahu bahwa sekolah itu tidak penting.
Dad
Jarak menyadarkan aku betapa berdosanya aku
Sakit yang menggrogoti tubuhmu
dan kau masih berkata baik-baik saja
Aku tahu pasti engkau sedang sakit
tapi kita tidak punya uang untukmu berobat
ahh….
salah negarakah ini?
ahh…
ini semua salahku yang tidak mampu berbuat apa-apa
karena finansial yang terbatasi
pecundang
perjalanan ini sepertinya telah lama dimulai, namun kenapa tak kunjung usai. karena akhirnya adalah kematian yang dingin? akh… aku tidak ingin seperti ini. menjadi pecundang dan melihat orang-orang yang kusayangi pergi bersama orang lain bergandengan tangan. berpelukan. sesak dada ini terasa. kadang aku berpikir ini adalah cara Tuhan mengajarkan kedewasaan kepadaku. mengajarkan pahit. mengajarkan kesedihan. setelah waktu silih berganti dan aku hanya berlari dari satu titik kecil ke titik kecil yang lain. menghindari setiap masalah. menghindari setiap rasa yang begitu dalam menghujam. sangat dalam. aku berpikir aku hanyalah pecundang. hingga sampai hari ini aku tenggelam di sini. diremehkan. diacuhkan. dan sekali lagi aku hanya mampu melihat orang-orang yang kusayangi pergi bersama orang lain bergandengan tangan. berpelukan. akankah aku berlari lagi. lelah kawan. tapi aku memang pecundang
Jakarta 2 Jan 2012








